Saya dan Suami Saya
Saya dan Suami Saya
Kalau ditanya kenapa saya milih suami saya sekarang untuk jadi pasangan hidup, saya juga bingung gimana jawabnya. Secara dia bukan tipe saya banget. Sebagai seorang yang dulu menyukai dunia akademisi (sekarang juga masih suka sih kalau disuruh nyemplung lagi di dunia itu), saya suka tipe cowok yang pakai kacamata, serius, rapi, bisa diajak diskusi hal-hal yang berat2, romantis, punya keinginan yang sama untuk lanjut kuliah di luar negeri dan tentunya seagama. Tapi ternyata suami saya beda agama dengan saya, dia duda, punya anak pula sebelumnya, dandanannya semau-mau dia, dan juga sering bikin saya jantungan. Kalau dipikir-pikir beberapa pasangan nemuin pasangan hidupnya malah bukan yang sesuai kriterianya, tapi malah (mungkin) kebalikannya. Kenapa begitu? Karena Tuhan tau kalau yang dibutuhkan oleh setiap pasangan adalah saling melengkapi. Coba bayangin kalau saya dan suami saya sama-sama serius, apa ga akan jadi seperti ruangan dosen rumah kami nantinya? Heheehee… Makanya Tuhan kasih saya pasangan yang doyan becanda.
Anyway, kalau ditanya bahagia atau tidak hidup bersama dgnya, jujur saya bilang kalau beberapa kali saya sempat ingin mengakhiri ikatan ini atau kadang juga saya ingin bunuh diri, tapi karena blm nemuin cara bunuh diri yang nggak pake sakit, nggak dilanjutin deh keinginan itu. (Jadi ketauan kan nyalinya ciut. Hahaha…).
Rumah tangga, berkeluarga, menjalin hubungan suami istri itu nggak seperti cerita dongeng yang setelah menikah lalu happily ever after. Justru yang ada kita baru saja terbangun dari mimpi indah yang panjang. Pasangan kita nggak seperti yang kita harapkan. Tapi jangan serta merta putus asa jika kepentok hal-hal seperti itu karena semakin lama akan semakin banyak ketidakcocokan kita dengan pasangan. Kalau kata bu Herien, dosen saya dulu, seorang doktor di bidang keluarga, pernikahan itu management ketidakcocokan. Management ketidakcocokan yang saya aplikasikan selama ini adalah saya selalu mengingat kebaikan-kebaikan suami saat dia melakukan hal-hal yg menyakitkan hati. Misalnya, bagaimana care-nya suami saya sama keluarga saya terutama mama saya, bagaimana suami saya sangat jago ngurus anak bahkan seringnya dia yang bangun tengah malam untuk membuatkan susu untuk Avi karena tidak mau membangunkan saya yang terlelap pulas karena kecapekan, dan bagaimana dia selalu berusaha untuk memenuhi semua keinginan saya dan mengenyampingkan keinginannya sendiri. Percayalah, saat hati sedang merasa sangat tersakiti dan kau malah mengingat kebaikannya, maka keinginan untuk pisah atau bunuh diri akan sirna begitu saja. Soalnya, kalau kita cuma mengingat keburukan seseorang, nggak bakalan ada habisnya. So, stop mengingat-ingat keburukan pasangan kita, tapi mulailah ingat semua hal baik yg ada dalam dirinya.
Alhamdulillah saya punya suami seperti dia. Emang sih, dia jelek, item, masih gendut walopun sudah turun 22kg, tua (beda 10 th sama saya), hidup selalu dalam ketidakpastian karena dia bukan pegawai, kadang tempramental, mood swing (kalau ini mah saya juga begitu), dan masih banyak lg hal-hal buruk lain yang tidak perlu saya bongkar di ruang publik. Sampai kadang saya mikir, kok bisa ya saya mau sama dia??? Hahaha… Nah itulah, kadang cinta memang nggak butuh alasan, nggak perlu dijelaskan. Yang saya tahu, dengannya saya memiliki keluarga yg sempurna, anak-anak yg baik, dan menurut saya dia adalah laki-laki paling bertanggung jawab kedua di dunia ini setelah ayah saya. Karena menikah adalah menjaga komitmen.
*ah jd pengen nangis kaaannn…