Saya seorang istri (22 tahun) yang baru 2 tahun menikah dengan suami saya (40 tahun). Saya memiliki 1 orang anak berusia 1 tahun. Suami saya adalah seorang pengguna jejaring sosial, dan terlihat sekali suami saya sangat ingin diperhatikan oleh wanita. Berkali-kali saya menyatakan keberatan saya namun berkali-kali pula saya disalahkan.
Hingga pada suatu hari saya berniat untuk mencari tahu bagaimana suami saya, dengan menggunakan akun jejaring sosial milik teman saya. Dan rupanya saya berhasil melihat, bahwa ternyata selama ini suami saya memberikan pin dan no HPnya dengan satu pesan, “jika telp atau bbm pada jam kerja, karena tidak ada istri”. Kemudian saya bermaksud untuk lebih dalam lagi dan ternyata suami saya menuruti. Bukan masalah ini saja, sering juga suami saya lebih memilih untuk berkaraoke dengan temannya daripada menemani saya bermain dengan anak saya.
Suami saya sendiri adalah lelaki pencemburu. Sebelumnya saya adalah seorang pekerja. Tapi belakangan suami saya melabrak satu persatu teman saya dengan alasan mereka berselingkuh dengan saya. Padahal demi Allah saya tidak pernah berselingkuh. Tidak cukup teman, bahkan pimpinan saya pun dilabrak dengan alasan yang tidak jelas. Dan itu membuat saya tidak nyaman dan merasa malu.
Sudah sekian lama saya berusaha untuk diam dan sabar. Namun pada akhirnya saya benar-benar sudah tidak kuat lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya saya utarakan keinginan saya pada suami. Namun kali ini saya benar-benar menuntut dia utk serius berumah tangga. Namun suami saya berstatement bahwa, “kesenangan saya (suami) adalah hak saya (suami), dan kamu (istri) tidak punya hak untuk melarang saya (suami)” .
Bagaimana saya tidak punya hak? Sedang saya ini adalah seorang istri. Dan kemudian sering terjadi suami saya menampar dan mendorong saya hingga tersungkur. Bahkan yang terakhir hingga mulut saya robek di bagian dalam. Ingin saya melaporkan ini pada polisi, tapi biar bagaimanapun juga dia adalah papanya anakku. Dan banyak lagi yang saya pikirkan seperti bagaimana malunya keluarga saya pada tetangga kalau sampe ini terdengan oleh tetangga. Sedang keluarga besar saya adalah keluarga priyayi yg cukup terpandang. Saya bingung, malu, dan kasian pada anak saya.
Saya harus bagaimana.? Saya bena-benar bingung.